SWOT KAMMI (Refleksi Milad KAMMI ke-19 Tahun)

Share:

Oleh : Hilkadona Syahendra
(Kadep Kebijakan Publik)

Ketua-ketua OKP Kemahasiswaan di malam puncak milad KAMMI ke-19 tahun

Kita mungkin sering mendengar istilah Strong, Weakness, Oppurtunity dan Thread atau disingkat SWOT. SWOT digunakan orang untuk mengukur Kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan. Sebagai organisasi yang hari ini tepat berusia 19 tahun, semoga tulisan ini sedikit banyaknya dapat menggambarkan secara umum SWOT KAMMI versi penulis. Adapun Jika ada kesalahan dalam tulisan singkat ini mohon kiranya diberikan kritik yang membangun. Semoga bentuk kecintaan terhadap gerakan kebaikan selalu menjadi niat utama dari tulisan ini.

KAMMI dengan segala kelebihan dan kekurangan memiliki potensi yang besar untuk menjadi pelaku kejayaan umat dan kedaulatan bangsa di masa yang akan datang. Bukan hanya karena KAMMI adalah sebuah organisasi yang masih muda, sehingga aura idealisme masih relatif terlihat di hampir seluruh kader nya.

Akan tetapi juga Karena KAMMI adalah sebuah organisasi yang independen dan tidak terikat dengan kekuatan ekonomi atau politik manapun. Sehingga secara legal ia tidak terkoptasi secara langsung dan berpeluang lebih besar masuk ke berbagai lini kehidupan bangsa. Ini menjadi peluang untuk KAMMI agar memperbesar kuantitas kader dan memperkuat kapasitas kader di masa yang akan datang demi kontribusi  terhadap umat dan bangsa. Menurut penulis, KAMMI sudah memutuskan bahwa keislaman dan kebangsaan adalah  pilar terkuat untuk mempertahankan Indonesia merdeka dan untuk mencapai cita-cita Indonesia merdeka. Sejarah telah mencatat bahwa perpaduan soliditas keislaman dan kebangsaan yang akhirnya menjadi ruh dari Lahirnya Pancasila. Proses Lahirnya Pancasila yang dipenuhi proses dealektika yg cukup panjang dan melahirkan berbagai dinamika hakikatnya adalah khazanah dari Allah Swt terhadap lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dealektika yang terjadi lebih baik dipandang sebagai proses saling koreksi antar berbagai pemikiran dari seluruh elemen bangsa. Sudah saatnya Pancasila menjadi ruh yang menjiwai keislaman dan kebangsaan generasi muda islam Indonesia, khususnya kader KAMMI seluruh Indonesia.

Sebab untuk mewujudkan cita-cita perjuangan KAMMI, maka KAMMI harus menyelam jauh ke dalam lautan sejarah dan mengambil inti sari dari dasar Indonesia merdeka. Sehingga insyaallah atas izin-Nya KAMMI kelak akan mencapai Visinya yaitu "sebagai Wadah perjuangan permanen yang akan melahirkan kader-kader pemimpin dalam upaya mewujudkan bangsa dan negara Indonesia yang Islami."

Jika dianalogikan dengan kegiatan ekonomi, maka KAMMI adalah Pabriknya, pengkaderan adalah proses produksinya, aktualisasi paska menjadi pengurus KAMMI adalah proses distribusi dan promosi agar diketahui dan dikenal. Selanjutnya Ketika produk sampai ke konsumen dan diterima oleh konsumen dengan baik, maka itu adalah analogi kader KAMMI sebagai produk dari pengkaderan yang panjang, bermuara pada posisi kader-kadernya diterima dan menjadi orang yang mampu memberi pengaruh terhadap masyarakat (Pemimpin). Seperti yang penulis analogikan di atas, maka satu kata yang dapat disimpulkan yaitu produk tersebut dipercaya oleh konsumen. Adapun mengenai kepercayaan publik terhadap produk, tentu membutuhkan proses kelayakan untuk dipercaya.  Artinya kepercayaan terhadap produk/sesuatu membutuhkan prosedur dan proses sehingga layak dipercaya. Maksud dari kata "Layak dipercaya"  ini memiliki nilai lebih yang akhirnya mampu memenuhi yang kemudian menjadi kebutuhan konsumen /masyarakat. Kembali kepada produk yang dihasilkan oleh KAMMI, yaitu kader-kader pemimpin masa depan yang juga memiliki nilai lebih. Nilai lebih yang perlu kader KAMMI lakukan adalah bagaimana upaya kader KAMMI secara kolektif memberikan manfaat di berbagai sektor kehidupan bangsa dan negara. Menciptakan lapangan kerja dengan menjadi pengusaha. Menjadi pengawas pemerintah dengan mendirikan LSM khusus pengawas kebijakan publik. Menjadi pengawas lingkungan dgn membentuk atau masuk ke LSM yang bergerak di bidang lingkungan. Atau bahkan menjadi produser Film agar menciptakan Film berkualitas yang sesuai dengan nilai-nilai islam universal yang juga terkandung dalam Pancasila ,dan lain sebagainya. Tentu yang dilakukan oleh KAMMI selama 19 tahun ini belum mencapai puncak kontribusi terbesarnya untuk umat dan bangsa. Sebab Masih sangat banyak lini kehidupan ini yang ke depan akan diisi oleh kader KAMMI,  tidak hanya menjadi Politikus. Oleh Sebab itu kepercayaan yang harus dibangun oleh KAMMI kepada umat dan bangsa adalah kepercayaan yang sifatnya kolektif, dimana seluruh kader KAMMI mampu menjadi penggerak kehidupan berbangsa dan bernegara ke arah yang lebih baik dan islami. jika kader KAMMI mampu membangun kepercayaan umat dan bangsa, maka hal inilah pekerjaan rumah semua kader dan alumni. Penulis tidak pernah memisahkan kata "Kader KAMMI" dan "Alumni KAMMI". Bagi penulis kader dan Alumni adalah kesatuan dalam mengambil peran estafet kepemimpinan di setiap jenjang nya. Karena setiap orang ada zamannya dan setiap zaman ada orangnya. Kader KAMMI yang telah menyelesaikan amanahnya di KAMMI idealnya harus memegang teguh nilai-nilai dan metode yang KAMMI telah ajarkan. Oleh sebab itu tugas mewujudkan Visi KAMMI adalah kerja kolektif antara seluruh kader KAMMI dan alumni KAMMI lintas zaman.

Berkaitan dengan kepemimpinan untuk membentuk bangsa dan negara Indonesia yang islami sebagaimana Visi KAMMI, maka kader KAMMI harus mempersiapkan metodologi yang tepat dan sesuai dengan kebudayaan bangsa Indonesia,khususnya sesuai dengan tantangan zaman hari ini. Secara singkat penulis sepakat dengan pandangan Yudi Latif dalam bukunya Negara Paripurna, beliau mengatakan bahwa Indonesia bukan negara agama dan bukan juga negara sekuler. Di Indonesia Institusi keagamaan dengan institusi negara tidak mengalami benturan yang sifatnya saling bermusuhan. Denys Lombard menyebutnya sebagai Toleransi Kembar atau Twins Tolerantion. Dari uraian singkat konsep Yudi Latif, maka dapat disimpulkan bahwa Pancasila sejatinya telah menjiwai toleransi kembar tersebut. Agama tidak mengintervensi negara dan negara membebaskan umat beragama menjalankan agamanya. Sehingga dengan ini semakin jelas bahwa berfokus pada dimensi keislaman dan kebangsaan adalah cara yang tepat untuk merangkul dan menginspirasi seluruh rakyat Indonesia. Akan tetapi, pertanyaan penulis adalah "sudahkah KAMMI memiliki metodologi yang mampu merangkul dan menginspirasi seluruh rakyat Indonesia?"

Hal inilah yang menjadi Pekerjaan rumah kita semua, bukan hanya kader KAMMI tetapi seluruh elemen bangsa Indonesia. Saling merangkul dan menginspirasi tentu membutuhkan waktu dan energi yang sangat besar. Semuanya dapat kita mulai dengan membuka akses komunikasi. Memperluas sumber informasi, memperlebar relasi dan menjaga serta merajut tali silaturahmi. Sebab pintu utama baiknya hubungan sesama manusia terletak pada caranya berkomunikasi.

Bagi penulis Islam seolah sudah menjadi identitas yang melekat terhadap Indonesia, dan islam selalu ingin menjaga tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Adapun kecurigaan yang berlebihan terhadap islam menurut penulis harus kita hadapi secara bijaksana. Penulis menilai KAMMI berdiri atas dasar Pancasila yang menjunjung tinggi nilai-nilai islam universal. nilai-nilai islam universal inilah ketika mampu diterjemahkan di tataran praktis, penulis yakin KAMMI akan mampu merangkul dan menginspirasi sesama anak bangsa.

Demikian tulisan singkat yang masih membutuhkan kritik dan masukan agar sesama kader KAMMI terus melakukan perbaikan metodologi dalam menghadapi tantangan zaman.

Tidak ada komentar